Monday, November 5, 2007

Lebaran di Inggris (Coding@theUK bagian 4)

Biasanya di hari lebaran aku pulang kampung, ikut merayakan dengan bersilaturahmi dengan sanak saudara. Tetapi kali ini di Inggris aku mengisi waktu dengan mengunjungi tempat yang belum aku jelajahi sebelumnya.

Tujuanku hari ini adalah mengunjungi Sherwood Forest.

Pagi hari pukul 09.00 aku berangkat mengunjungi Nottingham tourist information center di pusat kota. Aku mengambil tiket day rider seharga £ 2,7 jadi aku bisa keliling area kota seharian dengan bus atau tram.

Dua orang petugas dengan ramah menjelaskan rute bus yang harus aku tempuh. Mereka menggambarkan di sebuah kertas berisi peta terminal di mana aku harus naik bus dan tempat di mana nanti aku harus turun. Peta dan brosur bus yang melayani diberikan dengan cuma-cuma.

Waktu masih menunjukkan pukul 10.00, kuputuskan untuk menjajal dahulu tram yang belum pernah aku naiki. Dengan menggunakan tiket day rider aku bebas naik turun di sepanjang rute yang dilalui tram. Tidak jauh memang, hanya menjangkau ujung utara hingga selatan kota Nottingham sejauh sekitar 15 km.

Setelah puas menjajal tram, aku menuju ke stasiun bus Victoria. Aku harus membeli lagi tiket seharga £ 4.8 untuk perjalanan pulang balik karena tempat yang aku tuju di luar kota.

Tiba di Sherwood Forest pukul 14.30. Ternyata tempatnya memang jauh, hampir sejam naik bus yang melaju cepat. Dari tempat turun bus aku berjalan kaki 5 menit menuju area hutan Sherwood.

Karena perut sudah lapar aku mampir ke cafe di situ. Aku memesan roti panggang keju plus secangkir teh ala Inggris seharga £ 3.8. Sepuluh menit kemudian roti panggang panas dengan keju tebal di atasnya, dan sedikit sayuran sudah siap dihadapanku. Langsung kusantap terasa nikmat sekali, apalagi cuaca agak dingin dan mendung. Teh panas bercampur susu khas Ingris menjadi penutup yang hmm sedap. Beberapa orang turis lokal dan dari eropa juga tampak menikmati makan di kafe ini.

Setelah kenyang aku langsung menuju ke obyek utama di hutan ini yaitu Major Oak atau pohon Oak utama. Keluar kafe terhampar lapangan cricket yang hijau dan terawat. Di sampingnya ada jalur tanah untuk pejalan kaki menuju ke Major Oak. Menyusuri jalan tersebut di kiri kanan penuh pepohonan hutan. Jalur dibatasi dengan pagar kayu yang sangat rapi. Memang di Inggris umumnya fasilitas publik dikelola dengan bagus.

Agak ke dalam hutan terdapat bangunan yang berfungsi sebagai pusat informasi dan cindera mata. Aku melanjutkan jalan kaki ke tengah hutan. Sungguh segar udaranya di sini, kiri kanan penuh pohon lebat hijau. Setelah 20 menit aku tiba di pohon Oak yang besar dan sangat indah. Diperkirakan usia pohon ini sudah lebih dari 500 tahun. Untuk menjaga kelestariannya, pohon ini ditopang dengan besi-besi penyangga. Diyakini pohon ini menjadi tempat pertemuan Robin Hood dengan para pengikutnya dulu.

Cuaca yang agak gerimis makin menciptakan suasana yang sangat alami, serasa hiking di gunung.

Karena berangkat sendiri, temanku sudah kembali ke Indonesia kemarin, aku meminta tolong seorang pengunjung untuk mengambilkan foto dengan latar belakang pohon Oak ini. Beberapa orang juga tampak mengambil foto di area ini. Setelah puas menghirup udara dan menikmati suasana hutan, aku kembali berjalan kaki menuju halte bus terdekat untuk kembali ke Nottingham.

Foto :

- Petunjuk masuk Sherwood Forest

- Major Oak

Menunjungi London (Coding@theUK bagian 3)

Weekend kedua di Inggris, kami menyempatkan untuk main ke London, salah satu kota yang menjadi tujuan utama turis di Eropa.

Hari sabtu pagi-pagi pukul 06.00 kami berangkat dengan naik kereta api menuju stasiun internasional St. Pancras London. Sesampainya di London, untuk memudahkan perjalanan kami membeli tiket all day untuk bus dan tube (istilah untuk kereta bawah tanah di London) seharga £ 5.7.

Obyek pertama yang kami kunjungi adalah istana Buckingham, tempat tinggal keluarga kerajaan Inggris. Banyak turis berfoto di depan istana ini, sebagian besar berasal dari Jepang.

Tak jauh dari istana Buckingham terdapat St. James park, sebuah taman yang luas dengan danau di tengahnya. Ternyata di kota London yang kukira padat dengan bangunan terdapat taman yang sungguh luas dan nyaman. Banyak orang berolah raga lari mengelilingi danau karena memang jalur untuk pejalan kaki lebar dan halus mengelilingi danau. Di tengah danau terdapat banyak itik. Di pinggirnya banyak binatang tupai yang ramah dengan pengunjung, tapi kami tidak berhasil menyentuhnya karena ia sangat lincah. Terdapat pula banyak burung merpati yang berkerumun di satu sisi taman.

Dari St. James park kami naik bus 5 menit menuju gedung parlement Inggris dengan jam besar Big Ben disampingnya. Lokasinya persis di tepi sungai Thames. Di seberangnya terdapat London Eye, sebuah kincir raksasa berpenumpang mirip bianglala di Dufan namun dengan ukuran sangat besar.

Kami lalu berjalan-jalan di sekitar gedung parlemen, menuju ke arah tube terdekat. Kami menjumpai sebuah monumen berbentuk bola dunia berdiameter sekitar 1.5 meter dengan gambar banyak burung merpati terbang. Monumen ini dibangun untuk memperingati 202 korban tewas BOM Bali 1 di Kuta Bali Indonesia pada 2002.

Sesudah mencapai tube, kami langsung menuju ke daerah Peckham, tempat kami memesan hotel (lodge tepatnya, karena sangat mahal jika menginap di hotel berbintang di London).

Setelah check in dan istirahat sejenak, tak ingin menyia-nyiakan waktu yang sempit kami kembali naik bus untuk menuju ke obyek Tower Bridge. Di sini terdapat jembatan sungai Thames dengan dua castle yang unik itu. Banyak turis melihat-lihat di sekitarnya. Berjalan kaki sekitar setengah kilo terdapat bangunan dari abad 11 yaitu London Tower. Bangunan berbentuk persegi empat dengan castle di tiap sudutnya ini pada abad pertengahan digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan dan eksekusi tahanan.

Selesai menikmati kota, waktu sudah malam kami balik ke penginapan. Di daerah tempat penginapan – yang jaraknya 25 menit naik bus dari pusat kota - lebih banyak dihuni warga Inggris keturunan Afrika.

Esok paginya kami bangun lalu sarapan dengan dua potong roti panggang, cereal campur susu, dan teh. Waktu masih pukul 09.00 kami langsung check out karena masih banyak obyek yang akan kami kunjungi. Pertama kali kami ke St. Paul Cathedral, yang dibangun pada abad yang sama dengan London Tower. Gereja Anglikan ini sangat besar, kubahnya merupakan yang terbesar di Inggris.

Dari St. Paul Cathedral kami ke Covent Gardent, pasar yang banyak dikunjungi turis. Di sini banyak penjual souvenir, pakaian dan kafe. Dari sini kami naik bus menuju ke British Museum. British Museum sebenarnya lebih pas disebut World Museum, karena berisi koleksi benda-benda bersejarah dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara jajahan Inggris dulu. Terdapat berbagai barang peninggalan manusia jaman dulu sejak dari jaman batu serta berbagai koleksi patung. Dari Indonesia ada patung Ganesha dan kepala Budha candi Borobudur. Saking luasnya museum tidak semua area sempat kusinggahi, kami langsung menuju ke obyek berikutnya yaitu Oxford street. Sepanjang jalan ini, lautan manusia ramai di trotoar yang luas di kiri dan kanan jalan. Pertokoan berjejer dengan berbagai iklan diskon. Uniknya tidak ada toko yang bangunannya tinggi seperti mal di Jakarta, dan jarak antar satu toko dan lainnya cukup dijangkau dengan berjalan kaki atau naik bus yang hampir setiap menit ada melewati sepanjang jalur Oxford street.

Setelah mampir untuk mendapatkan beberapa souvenir, hari sudah sore kami langsung menuju ke Science Museum. Perjalanan menuju ke Science museum kami melewati Hyde Park, sebuah taman yang sangat luas dengan danau ditengahnya. Lalu melewati juga Kensington palace, yang dulu merupakan tempat kediaman putri Diana.

Sampai di Science Museum waktu sudah pukul 16.00. Masuk ke gerbang museum disambut dengan pajangan bagian roda pesawat Airbus yang diameternya sekitar 1 meter. Masuk ke dalam museum banyak terdapat peralatan-peralatan teknologi mulai dari mesin uap, kereta api, kendaraan bermotor, hingga satelit ruang angkasa. Sebagian besar adalah benda yang sesungguhnya, termasuk roket dan ruang kendali pesawat ruang angkasa. Hanya satelit yang kulihat merupakan replika dengan skala 1:5.

Karena sempitnya waktu, kami tidak sempat melihat lagi lebih detail isi museum yang terdiri atas 5 lantai ini. Pukul 18.00 kami keluar untuk menuju tube ke stasiun Pancras untuk berganti kereta kembali ke Nottingham.

Foto :

- Istana Buckingham

- St. James park

- Gedung parlement dan jam Big Ben.

- Tower Bridge

Mengunjungi Old Trafford Manchester (Coding@theUK bagian 2)

Hari minggunya kami menuju ke Manchester untuk melihat langsung stadiun Old Trafford milik klub sepakbola Manchester United yang terkenal itu. Kami naik kereta dari Nottingham pukul 09.15. Perjalanan seharusnya dua jam menjadi mulur karena terjadi kerusakan kereta di tengah perjalanan sehingga kami harus dipindahkan ke kereta yang lain. Memang kereta api di Inggris dikenal tidak begitu bagus, tapi setidaknya penanganan kejadian gangguannya cukup baik. Petugas mendatangi gerbong kereta satu persatu untuk menjelaskan kerusakan yang terjadi, serta meminta maaf dan akan mengganti rugi bagi penumpang yang ketinggalan pesawat karena keterlambatan kereta.

Sekitar pukul 14.00 kami tiba di stasiun Manchester Piccadilly. Dengan naik bus sekitar 30 menit sampailah kami di Old Trafford.

Suasana di luar stadiun sepi karena sedang tidak ada pertandingan. Waktu begini paling bagus untuk turis karena saat tidak ada pertandingan maka tour menuju ke dalam stadiun dibuka.

Kami membayar tiket £10 untuk masuk ke museum dan mengikuti tour ke dalam stadiun. Di dalam museum terpampang sejarah dari awal terbentuknya klub, gambar para pemain, piala, baju dan segala perlengkapan bola lainnya.

Sekitar pukul 14.20 tour dimulai. Ada sekitar 20-an orang yang ikut dalam rombongan. Mereka berasal dari berbagai negara termasuk beberapa orang Inggris.

Masuk ke dalam stadiun, terlihat kursi berjajar rapi dan bersih, serta rumput hijau yang terbal. Stadiun Old Trafford berkapasitas 75 ribu penonton, lebih kecil dibandingkan Gelora Bung Karno yang berkapasitas 100 ribu, tempat aku biasa jogging. Tetapi stadiun Old Trafford jauh lebih terawat. Seluruh fasilitasnya bersih, dan petunjuk-petunjuk tertulis dengan jelas.

Setelah melihat-lihat ke dalam stadiun, kami diajak untuk menikmati ruang ganti para pemain. Di dalamnya terdapat beberapa bath tub untuk berendam para pemain MU setelah lelah bermain. Tour kemudian dilanjutkan ke ruangan siaran pers. Di tempat tersebut semua pengumuman resmi seperti kontrak pemain dan penggantian pelatih disiarkan. Kemudian kami berjalan ke tribun pemain. Kami menyempatkan merasakan tempat duduk VIP, di mana kursinya lebih besar dan nyaman. Pada saat pertandingan kursi ini ditempati oleh pemain dan official kedua tim yang bertanding.

Setelah puas mengambil beberapa foto, rombongan diantar menuju pintu keluar karena kelompok berikutnya akan segera tiba.

Foto : Stadiun Old Trafford Manchester