Awal juni kemarin kami sekeluarga - saya, istri, dan Caelin putri kami yang berumur 4 tahun - berlibur ke Paris. Seperti pada umumnya turis, kami berharap mendapatkan pengalaman yang menyenangkan seperti gambaran orang tentang kota Paris yang indah, romantis, dan sebagainya. Sayangnya, baru hari kedua kami harus mendapatkan pengalaman yang menegangkan yaitu kehilangan paspor!
Kami tinggal di Inggris, jadi kami berangkat ke Paris dengan naik kereta Eurostar London – Paris. Perjalanan ditempuh selama dua jam, di mana 20 menitnya berada di terowongan bawah laut. Tidak seseram yang saya bayangkan karena rasanya seperti di dalam terowongan bawah tanah biasa.
Hari pertama, kami tiba di Paris sudah petang sekitar jam 6, jadi setelah check in di hotel dan istirahat sejenak, kami hanya sempat jalan-jalan sebentar untuk menyaksikan menara Eiffel di malam hari. Dengan lampu yang berwarna kuning menara Eiffel memang terlihat indah dan eksotis. Karena sudah malam, kamipun kembali ke hotel, dengan rencana kembali ke menara Eiffel esok harinya.
Sesuai rencana esok hari kami kembali berwisata di sekitar menara Eiffel. Setelah puas berfoto-foto di sekitar taman dan pinggiran sungai dekat menara Eiffel, sore sekitar jam 3 kami kembali ke hotel karena Caelin harus istirahat tidur siang. Perjalanan kami hampir selalu naik kereta bawah tanah, yang di sini istilahnya metro.Naik metro cukup efisien karena frekuensinya sangat sering , walaupun di jalur-jalur tertentu penumpang padat hingga harus berdiri.
Sampai di hotel istriku mengeluarkan isi tas untuk mengisi ulang logistik (halah) selama jalan-jalan, khususnya makanan untuk anak kami. Betapa kagetnya dia membuka tas back pack kami, dompet yang berisi passport kami bertiga hilang!! Dheg, saya sempat tidak percaya, dan mengira ini hanya mimpi. Langsung kami obrak abrik kamar hotel berharap dompet paspor terjatuh di kamar, tetapi nihil. Istriku langsung panik dan menangis, mengingat persoalannya tidak sekedar kehilangan passport. Di paspor itulah tertempel visa kami untuk tinggal di Inggris. Bagaimana kami bisa kembali ke tempat tinggal kami di Inggris kalau tanpa visa? Kalau kami berangkat dari Indonesia dan harus kembali ke Indonesia mungkin kami tidak terlalu panik. Masalah lain lagi, kebanyakan warga Paris tidak bisa atau tidak mau berbahasa Inggris.
Saya langsung berdoa, tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Setelah beberapa lama saya mulai pasrah dan bisa menerima keadaan. Saya ingat bahwa saya menyimpan scan passport dan visa yang saya upload di account email yahoo. Langsung saya cari warnet terdekat, untung cukup jalan kaki 5 menit. Setelah mencetak backup scan passport dan visa, saya langsung mencari kantor polisi terdekat. Dua orang kutanya dan tidak bisa memberikan petunjuk yang tepat. Beruntung, aku ketemu dengan sepasang pria dan wanita yang sepertinya suami istri, dan mereka berbahasa Inggris! Ketika kutanya di mana kantor polisi terdekat, dengan perhatian dia menanyakan apakah aku ada masalah.
Kuceritakan bahwa aku WNI, kehilangan passport sekeluarga, sementar kami tinggal di Inggris. Langsung dia dan istrinya mengubah arah jalannya, dan mengantarkanku ke kantor polisi dengan berjalan kaki yang ternyata agak jauh. Ternyata mereka WN Inggris yang tinggal di Paris. Yang wanita malah bercerita pernah pergi ke Bali dan danau Toba! Mereka cerita bahwa di Paris banyak warga dari negara-negara yang dilanda perang dan kekacauan datang ke Perancis dengan harapan bisa mencari tempat tinggal di negara-negara eropa lainnya, salah satunya dengan cara mencuri paspor. Dia bilang masalah kami komplek karena posisi kami tinggal di Inggris, sementara paspor Indonesia. Dia juga bercanda dan menghiburku supaya aku jangan terlalu bersedih – karena masih diberi hidup :)
Sampai di kantor polisi setempat mereka dengan baik hati meluangkan waktu untuk menterjemahkan kasusku ke dalam bahasa Perancis. Di luar dugaan saya, semua polisi yang kami temui tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau tidak ada dua orang baik hati ini yang membantuku menterjemahkan. Kalau saya datang sendiri, bisa-bisa saya diduga imigran gelap.
Setelah sekitar satu jam di kantor polisi, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saya agak lega karena surat kehilangan paspor sudah di tangan. Saya kembali ke hotel, menemui istriku yang masih shock, dan anakku yang mengajak main ke luar karena bosan di kamar hotel.
Setelah menenangkan diri sejenak, seperti saran polisi kami merencanakan untuk besok paginya datang ke KBRI Paris. Karena belum tahu tempatnya, kami putuskan malam itu juga kami survey mencari lokasi kedutaan Indonesia.
Sampai di KBRI, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Lega rasanya setelah sekian lama bisa melihat bendera merah putih berkibar. Kami melihat-lihat pintu kedutaan, berharap menemukan jam buka sehingga bisa mengatur jadwal besok mau datang jam berapa. Tidak dinyana, ada suara menyapa kami dari belakang, dan berbahasa Indonesia! Langsung kami salam, nama laki-laki yang menyapa kami adalah Pak Juwiyanto, yang ternyata petugas kedutaan! Betapa senangnya kami ketika beliau mengajak kami masuk ke kedutaan, yang ternyata tetap menerima tamu walau jam kantor sudah tutup dan sudah larut malam.
Lalu kami ceritakan masalah kehilangan passport kami. AJAIB nya, kata salah seorang petugas, tadi sore ada telepon dari kepolisian Perancis, yang katanya menangkap pencopet dan menemukan ada passport Indonesia. Hatiku langsung teriak, berharap itu punya kami. Ternyata benar, setelah konfirmasi telepon dengan Pak Indra – konsulat Indonesia yang sudah pulang ke rumah, daftar nama yang ada di passport adalah nama-nama kami. Kamipun disarankan untuk datang sendiri ke kantor polisi pusat di stasiun Gare du Nord. Orang-orang di KBRI Paris begitu ramah-ramah, bahkan kami dibelikan makan malam!
Setelah ngobrol di KBRI sekitar dua jam, pukul 11 malam kami naik kereta menuju ke stasiun Gare du Nord mencari kantor polisi. Ternyata sungguh menyulitkan karena lagi-lagi orang-orang yang kami tanya tidak bisa berbahasa Inggris. Setelah naik turun tangga mengitari stasiun akhirnya kami menemukan kantor polisi tersebut. Di situ kami lega karena melihat polisinya memegang tas kecil warna kuning tempat kami menyimpan passport. Saya menjelaskan kejadian yang menimpa kami, sementara putriku sudah semakin mengantuk. Dari sekian banyak polisi, hanya satu yang berbahasa Inggris. Ternyata polisi di Perancis sama dengan di Indonesia, kalau tanya detail. Dari posisi passport ketika hilang, hingga apa saja yang hilang semua ditanya. Polisinya bilang bahwa kami beruntung barang kecopetan bisa ditemukan. Setelah interogasi selesai, passport dikembalikan kepada saya, waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Baiknya, polisi Perancis ini mengantarkan kami kembali ke hotel dengan mobilnya – mengingat waktu sudah larut malam. Luar biasa mereka, benar-benar bekerja melindungi dan melayani!
Kami bersyukur paspor kami kembali, terlebih kami jadi dipertemukan dengan dua WN Inggris yang baik hati, dan juga para petugas di KBRI yang benar-benar melayani warganya. Terima kasih untuk bapak-bapak di KBRI Paris : Pak Indra, Pak Nyoto, Pak Juwiyanto, Pak Charles, dan lainnya yang maaf tidak saya ingat semuanya.
Kejadian ini benar-benar menjadi pelajaran buat saya, bahwa di manapun berada harus selalu waspada. Jadi ingat pesan Bang Napi : waspadalah, waspadalah !
Pelajaran yang lain adalah dalam situasi panik, lebih baik berdoa dulu baru bertindak. Dan kini, surat kehilangan paspor ini menjadi oleh-oleh paling berkesan dari Paris.